Mitos Keuangan yang Aneh


Di masyarakat banyak beredar hal-hal yang berbau mitos, meski kadang itu adalah fakta dan tak jarang hanyalah mitos yang tidak benar. Begitupun dalam hal keuangan,Pernah dengar mitos keuangan apa? Bagaimana menjadikan mitos itu sebagai fakta? Berikut setidaknya, beberapa mitos keuangan yang beredar di masyarakat.

1. Menikahlah maka kau akan kaya
Bagaimana pernikahan membuat sepasang manusia bisa kaya? Apalagi jika yang bekerja hanya salah satu. Bagi muslim tentunya tidak asing dengan pepatah dan begitu banyak masyarakat yang mengatakannya.
Bagaimana menikah bisa menjadikan sepasang suami istri kaya (berkecukupan). ketika anda masih single uang habis untuk hal-hal yang bersifat hura-hura, namun setelah menikah, tanggung jawab, kebutuhan berubah dan bertambah, maka suka tidak suka, mau tidak mau, berubah menjadi manusia yang bertanggungjawab dengan bekerja lebih giat dari saat masih jomblo. Ini jelas-jelas mitos, karena pernikahan yang tidak dipersiapkan secara matang jelas-jelas justru bisa menjerumuskan secara keuangan namun ini bisa diatasi dengan seperti pembagian peran antara suami dan istri.
Kaya bisa diwujudkan dengan pembagian partnership rumah tangga dan melakukan budgeting untuk kebutuhan keuangan baik saat ini, esok dan nanti, terhadap pos sosial, cicilan utang, investasi, biaya hidup dan dana cadangan, baik sendiri maupun ditambah dengan mewakilkan pengelolaan kepada pihak ketiga, yaitu asuransi.
Pembagian peran, suami sebagai direktur dan istri sebagai manajer atau menteri keuangan, merupakan kolaborasi yang pas, sehingga dari dan kemannya uang teratur dan tepat guna. Jangka pendek, rezeki bertambah, dengan berinvestasi jangka panjang kaya menanti, asal anda disiplin.
Langkah selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan keuangan keluarga dan mengatur keinginan, agar tidak terjadi pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan.

Baca Juga :

Mitos Tentang Hubungan yang Perlu Diperbaiki

2. Pernikahan anak sulung dengan bungsu akan menjadikan keluarga kaya

Karakter anak sulung dan anak bungsu yang biasanya berbeda, dapat menjadi partner yang hebat dalam rumah tangga dalam mewujudkan mitos kaya. Anak sulung terbiasa memanajemen banyak hal, bertanggung jawab dan mandiri dan anak bungsu yang biasanya gelagapan mengatur sesuatu, karena terbiasa diatur kakak-kakaknya alias terima jadi dapat menjadi tim kolaborasi yang saling melengkapi. ituBola Online
Anak sulung berjiwa pekerja keras, tak lelah mencari uang, anak bungsu suka menabung, tak gemar foya-foya, kebayang kan kalau anak bungsu dan anak sulung jadi pasangan. Setahun aja mungkin bakal punya rumah dan kebutuhan investasinya terpenuhi semua.Untuk mewujudkan menjadi pasangan yang kaya, dengan mendelegasikan manajemen keuangan kepada pasangan yang bungsu, yang tak gemar foya-foya dan rajin menabung dan pasangan yang sulung silakan bekerja dengan keras.Pengelolaan keuangan sesuai kebutuhan bisa menggunakan pola 10 20 30 40 (persentase dari pendapatan), dengan urutan sosial, cicilan utang, saving dan proteksi serta biaya hidup.
Ternyata ada ya mitos seperti itu yang bisa juga diwujudkan menjadi kenyataan. Yang pasti sih untuk bisa menabung dan berinvestasi anda harus bisa mengelola keuangan dengan baik dan benar.

3. Setiap anak membawa rezeki, banyak anak banyak rezeki

Pepatah jaman lama ini juga membuat "orang zaman dulu" punya anak banyak sekali, apalagi bila dikaitkan dengan kepercayaan nenek moyang terdahulu.
Data yang ada di Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2016, angka ibu melahirkan masih 2,6%. Artinya, rata-rata setiap ibu di Indonesia melahirkan tiga anak. Faktanya 1 orang ibu ada yang memiliki 10 orang anak.Selama ini dalam masyarakat terpatri kepercayaan, setiap anak membawa rezeki, banyak anak banyak rezeki. Mitos atau fakta? Fakta, karena yang dimaksud dengan rezeki dalam pepatah tersebut tidak serta merta tentang uang, tetapi anak ayang dilahirkan tersebut adalah sebuah rezeki.
Di sisi lain, bahwa yang dimaksud banyak anak banyak rezeki tidak hanya berupa finansial. Namun kesehatan, kesempatan dan kebahagiaan memiliki keturunan, ada penerus dan pewaris, dengan hubungan yang saling menyayangi adalah juga bagian dari rezeki.
Lalu Bagaimana mewujudkan banyak anak banyak finansial?
Lazimnya tidak ada rezeki lebih tanpa usaha, tanpa ikhtiar, tanpa bersyukur dan beriman. Jika hanya pasrah pada keadaan, jatah rezeki manusia hanyalah rezeki yang dijamin saja. Sehingga, jika kita tidak melakukan apa-apa, tersedia rejeki yang dijamin saja. Rejeki jenis ini seperti rezeki bagi saudara kita yang menderita gangguan jiwa, ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) namun tidak mendapat perawatan sehingga hidup di jalanan, tetap bisa makan dan minum, entah dari mana asalnya.
Jumlah anak berkorelasi dengan biaya hidup, makin banyak jumlah anak, makin besar kebutuhan dan biaya yang harus dipenuhi. Sehingga untuk banyak rezeki, harus diimbangi dengan bekerja lebih keras.
Memang rezeki sudah diatur, sudah ditentukan jumlahnya. Namun ia perlu dijemput, diusahakan. Dengan bekerja lebih keras, tentu jumlahnya akan berbeda dengan orang yang santai. Orang yang bekerja 7 jam sehari hasilnya akan berbeda dengan orang yang hanya bekerja 4 jam (rezeki yang diusahakan).
Contoh lain, setiap anak membawa rezeki adalah, anak yang cerdas, berprestasi, tidak perlu berpikir tentang biaya sekolah, banyak beasiswa mengantri untuk pendidikannya. Anak cerdas tidak hanya bawaan atau bakat tapi juga hasil pendidikan yang baik.

4. Rumah ngantong di belakang, banyak simpanannya, Rumah ngantong di depan boros

Ini jelas-jelas mengacu kepada ilmu yang dikenal dengan nama Fengsui. Secara finansial ini gak ada hubungannya antara rumah ngantong dengan jumlah simpanan atau pengeluaran. Semua tentang gaya hidup. Namun hal ini dapat dijadikan sugesti agar rajin menyimpan dan tidak boros. Bagaimana caranya?
Begitu anda menerima gaji atau pembayaran segera ambil untuk menabung atau berinvestasi, setelah sebelumnya telah membayar; zakat atau perpuluhan atau derma, dengan besaran sesuai ketentuan dalam agama masing-masing dan membayar cicilan utang. Dengan begitu maka menabung atau berinvestasi bukan dari sisa gaji atau pendapatan, namun dialokasikan dengan porsi yang telah ditetapkan.
Selanjutnya cukupkan hidup sehari-hari dengan 40% pendapatan. Maka tak ada lagi si boros dan si kaya karena rumah yang 'ngantong' depan atau belakang tersebut. Cukup jadikan sugesti agar hidup tidak boros dan rutin menabung.
Untuk diketahui rumah ngantong adalah rumah yang berbentuk lebar di depan atau di belakang dan menyempit di sebaliknya.

5. Dompet harus selalu ada isinya, untuk memancing uang

Dompet harus selalu ada isinya, untuk dana darurat dan agar teman-temannya yang ini berdatangan. Lha, ini kayak mancing ikan saja, pake umpan. Tapi memang tidak ada salahnya. Beberapa orang dahulu, jaman ATM masih jarang, memiliki uang darurat di dompet, ada yang nominal kecil, ada yang nominal besar, dan ada pula yang lengkap dari uang kertas pecahan terkecil hingga terbesar dan tidak dipakai kecuali kondisi darurat, seperti bayar parkir, ketika recehan yang biasa disediakan habis, atau lupa menyiapkan uang infaq ketika shalat jumat, atau mendadak menengok kawan atau sodara yang sakit. Saat ini dilarang mengosongkan dompet ini dilakukan dengan menyediakan dana darurat, dan agar duit yang ada memanggil teman-temannya maka dilakukan investasi. Khusus untuk dana daarurat disimpan dalam tabungan, logam mulia. ituBola Online

Itulah beberapa mitos aneh tentang keuangan yang banyak dipercayai masyarkat. bagaimanapun mitos yang beredar mitos hanyalah mitos dan tidak sepenuhnya benar.

Komentar

Postingan Populer